banner 728x250

HUT Kadin di Isi Dengan Aksi Nyata Berwawasan Lingkungan

Palangka Raya, neonusantara.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Tengah (Kalteng) menggelar Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) sekaligus syukuran HUT Kadin Indonesia ke-58 secara serentak dan hybrid, Kamis (24/9/2026).

Mengingat situasi daerah yang sedang dilanda kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), pelaksanaan kegiatan dibuat lebih sederhana tanpa mengumpulkan seluruh pengurus daerah di satu titik.

Ketua Umum Kadin Kalteng, Rahmat Nasution Hamka, menyampaikan bahwa momentum peringatan HUT tahun ini diisi dengan aksi nyata berwawasan lingkungan.

Pihaknya mengimbau agar ucapan selamat dialihkan dalam bentuk bibit pohon produktif untuk ditanam di berbagai wilayah Kalteng.

“Selama lahan itu produktif dan dirawat, insya Allah akan terjaga dari kebakaran. Lahan yang telantar dan tidak produktif justru yang sangat rentan terbakar,” ujar Rahmat usai kegiatan di Palangka Raya.

Selain gerakan penanaman pohon, Kadin Kalteng juga mendukung usulan Gubernur Kalteng terkait revisi tata ruang wilayah oleh pemerintah pusat agar pemanfaatan lahan untuk sektor produktif dapat lebih optimal.

Fokus Pertanian dan Penanganan Dampak Karhutla

Dalam Rapimprov kali ini, Kadin Kalteng berfokus merumuskan langkah strategis guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor pertanian dalam arti luas termasuk hortikultura dan tanaman pangan menjadi prioritas utama pendorong ekonomi Kalteng ke depan.

Terkait bencana kabut asap akibat Karhutla yang mengganggu rantai pasok serta aktivitas para pelaku UMKM, Kadin Kalteng turut mengambil langkah tanggap darurat.

“Dampak Karhutla tentu dirasakan langsung oleh pelaku UMKM di lapangan. Untuk itu, Kadin hadir memberikan dukungan dengan menyalurkan bantuan berupa masker berstandar, vitamin, hingga menyediakan rumah oksigen bekerja sama dengan sejumlah organisasi kemasyarakatan,” jelasnya.

Soroti Gejolak BBM Bersubsidi

Menanggapi fenomena antrean dan isu kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), Rahmat menilai persoalan utama bukan terletak pada pasokan, melainkan pada lebar margin harga antara BBM bersubsidi dan non-subsidi.

“Pasokan dari Pertamina sebenarnya normal. Namun, karena selisih harga BBM subsidi dan non-subsidi cukup jauh hingga mencapai Rp5.000 dibanding dulu, terjadi pergeseran konsumsi masyarakat secara masif ke BBM bersubsidi. Fenomena ini juga dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia,” pungkas Rahmat. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *