banner 728x250

Huma Betang Mulai Dibangun, Lohing Simon Pastikan DPRD Kalteng Kawal Tahapannya

Huma Betang Mulai Dibangun, Lohing Simon Pastikan DPRD Kalteng Kawal Tahapannya

PALANGKA RAYA – Huma Betang yang selama ini menjadi bagian dari rencana besar pembangunan ikon budaya Kalimantan Tengah kini mulai memasuki tahap nyata. Peletakan tiang perdana dilakukan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran di kawasan eks Kantor Dinas Kehutanan Kalteng, Jalan Jenderal Sudirman, Palangka Raya, Kamis (23/7/2026).

Ketua Komisi IV DPRD Kalteng, Lohing Simon, menyambut pembangunan tersebut. Ia menyebut Huma Betang bukan sekadar bangunan, tetapi diharapkan menjadi ikon budaya Dayak sekaligus pusat pelestarian adat dan budaya Kalimantan Tengah.

“Ini merupakan momen yang sangat baik. Bapak Gubernur telah meletakkan tiang perdana pembangunan Huma Betang yang luar biasa. Harapannya, Huma Betang ini menjadi yang terbesar di dunia,” ujarnya.

Menurut Lohing, pembangunan tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Rencana Huma Betang telah dibahas sekitar dua tahun lalu di Komisi IV DPRD Kalteng, khususnya berkaitan dengan bidang infrastruktur dan Cipta Karya.

“Perencanaannya sudah kami bahas sejak dua tahun yang lalu di Komisi IV. Hari ini bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah memasuki tahap implementasi pembangunan fisik,” katanya.

Sebagai mitra pemerintah dalam urusan infrastruktur, Komisi IV DPRD Kalteng menyatakan akan mengawal pembangunan tersebut agar berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan.

Lohing menjelaskan pembangunan Huma Betang akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Pembahasan anggaran lanjutan akan masuk dalam penyusunan APBD Tahun Anggaran 2027 yang dijadwalkan mulai dibahas pada Agustus hingga September 2026.

“Untuk kelanjutan pembangunan Huma Betang, tentu akan dibahas dalam penyusunan anggaran tahun 2027. Kami akan mengawal agar proses pembangunan dapat berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan,” ujarnya.

Tak hanya soal anggaran, Lohing juga menaruh perhatian pada material bangunan. Kayu ulin, menurutnya, merupakan bagian penting yang tidak boleh dilepaskan dari karakter Huma Betang sebagai rumah adat Dayak.

“Namanya Huma Betang, sejak dahulu tiang-tiang utamanya menggunakan kayu ulin. Begitu juga rangka penguat bangunannya. Itu merupakan ciri khas Huma Betang,” jelasnya.

Ia optimistis kebutuhan kayu ulin untuk pembangunan masih dapat dipenuhi sehingga tidak menghambat proses pekerjaan.

“Dengan rencana pembangunan Huma Betang ini, saya melihat kebutuhan kayu ulin masih dapat dipenuhi sehingga tidak menjadi kendala bagi pelaksanaan pembangunan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *